Dari Jejak Digital hingga Transhumanisme: Wawasan Transformasi Pendidikan yang Dikupas dalam Kuliah Tamu S-2 Pend Sastra dan Pend Bahasa Indonesia
Unesa.ac.id. SURABAYA—Program
Studi S-2 Pendidikan Sastra dan S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas
Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri
Surabaya (Unesa) menggelar kuliah tamu ’Menjadi Guru Bahagia Era
Digital’ di Auditorium FBS, Kampus II Lidah Wetan, pada Selasa, 9 Desember
2025.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, Suyatno guru besar
FBS Unesa; dan Adriono, penulis buku dan redaktur Majalah Kesehatan Medical
Talk RS Islam, yang mengupas peluang serta tantangan dunia pendidikan di tengah
perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Dalam pemaparannya, Suyatno menegaskan bahwa perubahan
digital menuntut lahirnya “warga negara digital” yang tidak hanya cakap
mengakses teknologi, tetapi juga memahami etika, tanggung jawab, serta
konsekuensi dari jejak digital yang ditinggalkan.
Ia mengingatkan bahwa rekam digital seseorang dapat
memengaruhi banyak aspek kehidupan di masa depan jika tidak dikelola dengan
bijak. Ia juga menyinggung konsep pedagogi transhumanisme, yang memungkinkan
teknologi memperluas kemampuan kognitif manusia.
Meski menawarkan
peluang besar, pendekatan ini tetap menyimpan risiko dehumanisasi dan
kesenjangan kesejahteraan jika tidak dikendalikan dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Baginya, tujuan utama pendidikan tetap tidak berubah: mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Sementara itu,
Adriono memperkenalkan AI sebagai “asisten dialog” yang bekerja bersama
manusia, bukan menggantikannya. Menurutnya, AI akan maksimal jika digunakan
dengan konteks, instruksi, dan tujuan yang jelas.
Ia kemudian
berbagi kiat menulis, termasuk pentingnya menciptakan kesan pertama yang kuat,
sambil menyinggung slogan ikonik era 90-an. “Kesan pertama begitu menggoda,
selanjutnya terserah Anda.” Peserta juga diajak praktik langsung merancang
pembuka tulisan menggunakan bantuan AI.
Pada sesi tanya
jawab, diskusi berkembang ke pentingnya menghadirkan unsur cipta, rasa, dan
karsa atau pikiran, emosi, dan kehendak dalam proses pembelajaran berbasis
teknologi. Narasumber menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu. Guru
tetap berperan memastikan siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
kreativitas, dan sensitivitas terhadap konteks sosial dan kemanusiaan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menegaskan bahwa
transformasi pendidikan tidak cukup hanya mengadopsi teknologi. Diperlukan
pendekatan yang etis, seimbang, dan berpusat pada manusia agar AI dapat
memberdayakan proses belajar, bukan menggesernya. Kolaborasi antara guru,
siswa, dan teknologi diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih
relevan, bermakna, dan selaras dengan tantangan zaman.